29 Tanjung, Pungut Sampah dan Meriahkan Festival Rimpu Mantika

Kota Bima, (25 /04 /2026)


Festival Rimpu Mantika 2026 Kota Bima yang digelar setiap tanggal 25 April sudah menjadi agenda tahunan pemerintah Kota Bima dan kini telah resmi masuk dalam kalender nasional Kharisma Event Nusantara (KEN). Festival Rimpu Mantika bukan hanya sekadar perayaan budaya, melainkan sebagai penegasan identitas perempuan Bima. Dalam perayaan festival budaya rimpu ini, yang menampilkan ribuan peserta mengenakan rimpu yang memadati area jalan soekarno-hatta, diawali ditempat start di depan Gedung Convention hall Paruga nae Kota Bima dan finish di ASI Mbojo.

Mengenakan Rimpu merupakan busana khas perempuan Bima menggunakan sarung tenun lokal (Tembe Nggoli). Dari beberapa gambar terlihat pantauan menggunakan drone, ada sekitar puluhan ribu peserta yang menciptakan pemandangan yang menghidupkan kembali memori peradaban lokal di tengah modernitas dengan nuasa biru.

Perayaan Rimpu Mantika menjadi ajang unjuk kebolehan untuk seluruh peserta yang hadir, mulai dari ibu rumah tangga, pejabat, masyarakat sipil dan seluruh instansi dibawah naungan pemerintah Kota Bima. Selain menggunakan rimpu, peserta juga telah dibagikan kupon undian berhadiah yang akan di undi setelah semua peserta sampai difinish. Berhubung hadiah yang disediakan beraneka macam hadiah, jadi tidak heran satu peserta memiliki lebih dari 1 kupon undian, karena pengundian kupon menjadi hal yang paling mendebarkan untuk semua peserta.

Keluarga Besar SDN 29 Tanjung Kota Bima pun hadir sebagai peserta yang turut ikut ambil bagian dalam perayaan Festival Rimpu Mantika 2026 tahun ini. Melalui komando yang apik oleh Kepala Sekolah SDN 29, Ikbal Tanjung, S.Pd, bahwa Festival Rimpu Mantika ini bukan hanya milik Pemerintah Kota Bima, namun sebagai simbol keteguhan perempuan Bima. Namun ada hal menarik dari perjalanan mengikuti Festival Budaya Rimpu Mantika 2026 ini, dimana beberapa guru menenteng kresek, memungut sampah-sampah yang berserakan sepanjang jalan yang dilewati selama acara berlangsung. Hal ini menjadi cara untuk menanamkan rasa peduli terhadap lingkungan sekitar, yang artinya kita tidak boleh buang sampah sembarang, dan harus dibuang di tempatnya.